
14
Desember 2011, Jakarta (ANTARA News): Ibarat kata sambil menyelam minum
air atau mandi basah sekalian. Komando Pasukan Khusus TNI-AD juga
begitu dalam program latihan terpadu mereka di satu desa perbatasan
Indonesia-Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat.
Adalah Dusun
Telian, Desa Tingting Sligi, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat, yang kali ini menjadi lokasi bhakti sosial pasukan
Baret Merah itu. Tentu bukan cuma personel tentara saja yang terlibat,
namun gabungan PMI, dinas kesehatan setempat, relawan, dan lain-lain.
"Baru
kali ini, menurut penuturan masyarakat setempat, dilaksanakan kegiatan
serupa. Jika mereka sakit, harus pergi ke Pos Pengamanan Perbatasan atau
malah ke Lubuk Hantu di wilayah Sabah, Malaysia. Kami sangat bangga
bisa menyumbang sesuatu pada masyarakat di perbatasan negara kita ini,"
kata Kepala Dinas Penerangan Komando Pasukan Khusus TNI-AD, Letnan
Kolonel Infantri T Sobri, di Jakarta, Rabu.
Kegiatan itu sendiri,
katanya, berlangsung dua hari lalu. Ratusan masyarakat setempat sangat
antusias mendaftarkan diri atak anak-anaknya. Seorang paramedik relawan
yang turut, Siwo, menyatakan, "Kebanyakan mereka menderita sakit terkait
pencernaan, di antaranya maag atau penyakit bagian gigi dan mulut. Kami
bersama personel tentara bahu-membahu menyuluh kesehatan dan gizi pada
mereka."
Secara keseluruhan, jumlah pasien masyarakat setempat
yang didominasi suku Daya Iban itu sebanyak 1.700 orang. Mereka juga
menjadi subyek penerima bantuan sosial berupa bahan-bahan pangan dan
kesehatan lain.
Karena ini kerja bersama, maka seluruh unsur di
sana dilibatkan. Tim gabungan terdiri dari Kopassus (15 orang), Kodim
Kapuas Hulu (20), personel Batalion Infantri 644/WS (24), Batalion
Infantri 643/WNS (empat), Kesehatan Korem 121/Alam Bhannawannawai (14),
Dinas Kesehatan Kapuas Hulu (tiga), dan PMI Pusat (dua).
Seorang
tokoh masyarakat di desa itu, Tumenggung Yohannes Uban, "Kami sangat
kesulitan jika ada masyarakat yang sakit. Jika sakit kami harus pergi
jauh sekali, bahkan kalau perlu sampai ke Lubuk Hantu karena di sana
lebih lengkap."
Karena ini program latihan yang penting bagi
Komando Pasukan Khusus TNI-AD, maka Wakil Komandan Jenderal Kopassus,
Brigadir Jenderal TNI Doni Munardo, memimpin langsung kedua aktivitas
ini. Upacara adat untuk menghormati rombongan dari Jakarta digelar
masyarakat setempat dan Munardo mendapat penghormatan tersendiri di
halaman satu rumah betang (rumah besar) mereka.
Latihan terpadu
mereka sendiri dilaksanakan di beberapa lokasi dan berujung di
Singkawang. Bumi Kalimantan bukan tempat asing bagi Komando Pasukan
Khusus TNI-AD, karena saat konfrontasi dengan Malaysia pada awal
dasawarsa '60-an, mereka sudah mencicipi keganasan hutan belantara
perawan pulau itu.
Saat itu, nama pasukan Baret Merah itu adalah
Resimen Para Komando TNI-AD, yang ditugaskan merekrut dan menggalang
kekuatan dari masyarakat setempat jauh di belakang garis pertahanan
Malaysia. Bahkan, beberapa segmen pertempuran dalam skala terbatas
dengan pasukan khusus Inggris, Special Air Forces, juga sempat mereka
alami secara langsung.
Tidak kurang itu terjadi pada Mayor
Infantri (saat itu) Leonardus Benyamin Moerdani yang lebih dikenal
dengan nama LB Moerdani, di satu sungai di wilayah perbatasan
Putussibau-Sabah. Puluhan tahun kemudian, personel-personel SAS yang
nyaris kontak senjata terbuka dengan Moerdani bertemu dengan jenderal
legendaris di dunia pasukan khusus Indonesia itu.
"Wakil Komandan
Jenderal menegaskan, medan latihan di Kalimantan kali ini sangat ideal.
Terutama untuk melatih para prajurit khusus muda agar mereka mengenal
lebih jauh medan rawa, sungai dan hutan yang sesungguhnya," kata Sobri.
Sumber:
ANTARA News